HAR Personal Notes

Wednesday, February 16, 2005

Nelayan Jepang

Orang Jepang sejak lama menyukai ikan segar. Tetapi tidak banyak ikan yang tersedia di perairan yang dekat dengan Jepang dalam beberapa dekade ini. Jadi untuk memberi makan populasi Jepang, kapal-kapal penangkap ikan bertambah lebih besar dari sebelumnya. Semakin jauh para nelayan pergi, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk membawa hasil tangkapan itu ke daratan. Jika perjalanan pulang mencapai beberapa hari, ikan tersebut tidak
segar lagi. Orang Jepang tidak menyukai rasanya.

Untuk mengatasi masalah ini, perusahaan perikanan memasang freezer di kapal mereka. Mereka akan menangkap ikan dan langsung membekukannya di laut. Freezer memungkinkan kapal-kapal nelayan untuk pergi semakin jauh dan lama. Namun, orang Jepang dapat merasakan perbedaan rasa antara ikan segar dan beku, dan mereka tidak menyukai ikan beku. Ikan beku harganya menjadi lebih murah. Sehingga perusahaan perikanan memasang tangki-tangki penyimpan ikan di kapal mereka. Para nelayan akan menangkap ikan dan langsung menjejalkannya ke dalam tangki hingga berdempet-dempetan. Setelah selama beberapa saat saling bertabrakan, ikan-ikan tersebut berhenti bergerak. Mereka kelelahan dan lemas, tetapi tetap hidup. Namun, orang Jepang masih tetap dapat merasakan perbedaannya. Karena ikan tadi tidak bergerak selama berhari-hari, mereka kehilangan rasa ikan segarnya. Orang Jepang menghendaki rasa ikan segar yang lincah, bukan ikan yang lemas.

Bagaimanakah perusahaan perikanan Jepang mengatasi masalah ini?
Bagaimana mereka membawa ikan dengan rasa segar ke Jepang? Jika anda menjadi konsultan bagi industri perikanan, apakah yang anda rekomendasikan? RENUNGKAN...

Begitu anda mencapai tujuan-tujuan anda, seperti mendapatkan jodoh - memulai perusahaan yang sukses - membayar hutang-hutang anda - atau apapun, anda dapat kehilangan gairah anda. Anda tidak perlu bekerja demikian keras sehingga anda bersantai. Anda mengalami masalah yang sama dengan para pemenang lotere yang menghabiskan uang mereka, pewaris kekayaan yang tidak pernah tumbuh dewasa, dan para ibu rumah tangga jemu yang kecanduan obat-obatan resep. Seperti masalah ikan di Jepang tadi, solusi terbaiknya sederhana. Hal ini diamati oleh L. Ron Hubbard di awal 1950-an. "Orang berkembang, anehnya, hanya dalam kondisi lingkungan yang menantang" -L. Ron Hubbard. Keuntungan dari sebuah Tantangan: Semakin cerdas, tabah dan kompeten diri anda, semakin anda menikmati masalah yang rumit. Jika takarannya pas, dan anda terus menaklukan tantangan tersebut, anda akan bahagia. Anda akan memikirkan tantangan-tantangan tersebut dan merasa bersemangat. Anda tertarik untuk mencoba solusi-solusi baru. Anda senang. Anda hidup!

Bagaimana Ikan Jepang Tetap Segar? Untuk menjaga agar rasa ikan tersebut tetap segar, perusahaan perikanan Jepang tetap menyimpan ikan di dalam tangki. Tetapi kini mereka memasukkan seekor ikan hiu kecil ke dalam masing-masing tangki. Memang ikan hiu memakan sedikit ikan, tetapi kebanyakan ikan sampai dalam kondisi yang sangat hidup. Ikan-ikan tersebut tertantang.

Renungan : Jangan menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan taklukanlah. Nikmatilah permainannya. Jika tantangan anda terlalu besar atau terlalu banyak, jangan menyerah. Kegagalan jangan membuat anda lelah, sebaliknya, atur kembali strategi. Temukanlah lebih banyak keteguhan, pengetahuan, dan bantuan. Jika anda telah mencapai tujuan anda, rencanakanlah tujuan yang lebih besar lagi.Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga anda terpenuhi, berpindahlah ke tujuan untuk kelompok anda, masyarakat, bahkan umat manusia. Jangan ciptakan kesuksesan dan tidur di dalamnya. Anda memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk membuat perubahan. Jadi, masukkanlah seekor ikan hiu di tangki anda dan lihat seberapa jauh yang dapat anda lakukan dan capai !

Tuesday, February 15, 2005

[Thought] Aduuh...jadi ngerepotin nih.

Sering saya mendengar ungkapan "sopan" diatas. Menurut orang tua saya sih, begitulah cara orang timur menyampaikan isi hati dan empatinya secara tersirat.

Kalo saya pikir malah sebaliknya, itu melanggar HAM dan menekan kebebasan berekspresi seseorang. Malah cenderung memaksa seseorang untuk berperilaku tidak asli, lips service. Lho kok bisa begitu?

Iya memang benar begitu.
Coba bayangkan kalau anda menerima ungkapan dengan nada seperti itu :
"Aduuuh....jadi ngerepotin nih udah nganter kemana-mana".
"Duuh...jadi ngerepotin udah musti nyiapin minuman segala".
"Duuh...saya jadi gak enak nih udah terus-terusan ngerepotin kamu".
Nah lho, kita harus jawab apa kalo ada pernyataan yang ditujukan kita seperti ini.
Apalagi mengingat kita harus tetap menjaga tali persaudaraan, tali silaturahim, dan tali-tali lainnya.

Dengan pernyataan seperti itu, menurut adat timur adalah tidak sopan jika kita menimpalinya dengan ungkapan : "Iya nih emang ngerepotin, sebenernya saya lagi sibuk lho" (kecuali dalam konteks bercanda dengan kerabat/teman dekat). Juga tidak mungkin kita bilang : "Iya deh, untuk kali ini gak apa-apa ngerepotin, lain kali liat-liat waktu ya". Bisa bubar tali silaturahim ini.

Pada dasarnya, dengan mengeluarkan 'pernyataan' seperti diatas, si empunya 'pernyataan' pasti mengharapkan jawaban yang ketimuran seperti ini: "Gak apa-apa kok, saya gak merasa direpotin" (padahal bisa saja sebenarnya memang nge-repotin).
Inilah yang saya maksud menekan kebebasan berekspresi seseorang. Kita seperti dipaksa untuk mengeluarkan pernyataan untuk menyenangkan dan menenangkan hati orang lain itu.

Akhirnya, lengkaplah basa-basi yang tidak perlu itu. Basa-basi yang tidak konstruktif.

Akan lebih baik kita "To the point" saja.
Misal : "Terima kasih banyak atas bantuannya ya"
Ini ungkapan apresiasi yang menurut saya jauh lebih baik. Tanpa harus memaksa 'pemberi' bantuan" untuk mengungkapkan "Gak kok, gak merepotkan saya".

Untuk itu, ubahlah kebiasaan anda dalam mengungkapkan isi hati dengan cara-cara yang lebih etis dan tidak menekan kebebasan berekspresi seseorang. Biasakanlah mengungkapkan isi hati secara natural tanpa polesan sana-sini dan tanpa basa-basi, tetapi harus dalam koridor tata-krama yang baik.

Bekasi, 15-Feb-2005
Hardiyanto